JAWABAN
GUS YAHYA atas TABAYUN RAIS AAM
Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
Dengan segala hormat dan permohonan maaf
apabila ada kata-kata yang menyebabkan tidak berkenan, saya perlu menanggapi
apa yang disampaikan oleh Rais Aam diatas.
1. Tidak benar bahwa sebelum dimulainya AKNNU
saya belum berhasil mendapatkan tambahan narasumber dari Timur Tengah. Pada
waktu itu sudah ada tambahan Mahmud Killic dari Turki, Dirjen IRCICA, sebuah
lembaga kebudayaan dibawah OKI; Muhammad Abu Al Fadl, Pemred Al Ahram, Surat
Kabar Mesir; Mustofa Zahran, intelektual publik dan penulis Mesir; sedangkan
Syekh Ali Jum’ah telah menyatakan bersedia tapi untuk penjadwalannya biau minta
menunggu sesudah awal Nopember mengingat bahwa beliau saat itu masih dalam pengawasan
dokter. Semua sudah saya laporkan kepada Rais Aam sebelum dimulainya AKNNU,
bahkan sebelum Rapat Gabungan Syuriyah Tanfidziyah yang kemudian memutuskan
bahwa AKNNU dilaksanakan sesuai rencana.
2. Pandangan Peter Berkowitz yang mendukung
Zionisme tidak terdapat dalam informasi publik mengenai profilnya:
https://en.wikipedia.org/wiki/Peter_Berkowitz. Saya memang bertemu dengannya
dua kali, sekitar pertengahan 2021 dan akhir 2023. Saya mempertimbangkannya
berdasarkan catatan karirnya di bidang akademik (sebagai profesor hukum di
Universitas Stanford) dan di pemerintahan. Saya telah menyatakan permohonan
maaf secara terbuka mengenai ketidaktahuan saya tentang pandangan yang
bersangkutan soal Zionisme.
3. Haji Muhammad Kholil bekerja untuk Gus Dur
sejak 2003, kemudian mulai 2008 Gus Dur meminta Kyai Mustofa Bisri meneruskan
kegiatan-kegiatan internasionalnya dengan didampingi Haji Muh (waktu itu
Holland Taylor) dan Hodri Ariev (Sekarang Ketua RMI), dan sejak 2011 Kyai
Mustofa Bisri melimpahkan aktifitas-aktifitas internasional itu kepada saya,
tetap dengan dampingan Haji Muh. Haji Muh tidak pernah bertidak atau melakukan
apa pun kecuali atas permintaan dan/atau persetujuan saya, sebagaimana cara
kerjanya saat mendampingi Gus Dur dan Kyai Mustofa Bisri. Maka semua yang
dilakukannya yang berhubungan dengan NU sepenuhnya merupakan tanggung jawab
saya. Sedangkan semua hubungan kerja kelembagaan berikut rangkaiannya dilakukan
berdasarkan kesepakatan-kesepakatan tertulis dengan dokumen-dokumen yang sah
secara hukum.
4. Saya menawarkan semua narasumber AKNNU
kepada berbagai lembaga untuk dapat ikut memmanfaatkan kehadiran para
narasumber itu di Indonesia. Kepada UI jiga saya tawarkan narasumber-narasumber
lainnya tapi yang kebetulan jadwalnya bersesuaian adalah Peter Berkowitz.
Rektor bukan bawahan MWA dan tidak terikat perintah pribadi Ketua MWA. Saya
tidak pernah memberi perintah kepada Rektor melainkan hanya menawarkan
sedangkan keputusan sepenuhnya di tangan Rektor.
5. Dalam AKNNU Peter Berkowitz kami minta
bicara tentang “Hak Asasi Manusia Universal dan Demokrasi” dan sama sekali
tidak menyinggung masalah Palestina-Israel, baik di AKNNU maupun UI. Rekaman
kuliahnya tersimpan rapi dan dapat diperiksa ulang. Di pihak lain, posisi saya
dalam membela dan memperjuangkan Palestina dengan cara apa pun yang mungkin di
setiap kesempatan, semuanya terdokumentasikan dan tersiar dengan jelas dan
terbuka. Sedangkan masyarakat luas pun telah semakin memahami duduk masalah
terkait insiden Peter Berkowitz, terbukti pembicaraan publik yang bernada
negatif mengenai hal itu pun telah pupus.
6. Tidak benar bahwa saya memindahkan AKNNU ke
Rembang. Yang terjadi adalah bahwa saat Rais Aam memerintahkan penghentian
AKNNU, dua orang narasumber, yaitu Imam Yahya Pallavicini dari Italia dan
Mustofa Zahran dari Mesir sudah terlanjur dibelikan tiket. Maka agar perjalanan
mereka tidak sia-sia, saya atur agar mereka menghadiri Haul di Rembang dan ada
sejumlah teman PBNU, baik peserta AKNNU atau bukan, juga ikut hadir dalam Haul
di Rembang itu, seperti pada Haul tahun-tahun sebelumnya.
7. Saya sudah menjelaskan secara rinci kepada
Rais Aam dan kepada Rapat Gabungan mengenai nalar dan tujuan dari kurikulum
AKNNU, yang intinya adalah memberikan wawasan kepada peserta mengenai realitas
yang akan dihadapi saat memasuki arena percaturan internasional, dan sama
sekali tidak ada elemen apa pun yang dapat berdampak indoktrinatif terhadap
peserta, apa lagi para peserta adalah kader-kader lanjut bahkan sebgian adalah
orang-orang ‘alim yang telah sempurna wawasan dan kemantapan aqidahnya terkait
aswaja.
8. Mengenai dana yang oleh Mardani Maming
(pada waktu itu bendahara umum) dimsukkan kedalam rekening PBNU, telah saya
jelaskan dengan menyertakan paparan dari ahli hukum bahwa dugaan TPPU dalam hal
itu amat sangat lemah —untuk tidak mengatakan mustahil. Lebih mustahil lagi
adalah mengaitkan PBNU atau NU, karena sama sekali tidak ada tindakan
organisasional kelembagaan (melalui pembuatan kepitisan oraganisasi) dalam hal
ini. ’Alaa kulli haal dugaan apa pun mengenai hal ini harus melalui proses
pembuktian yang sah sebelum ditetapkan kesimpulan apa pun.
9. Tidak benar bahwa Kamis, 13 November 2025,
saya menghadap Rais Aam dua jam lebih. Kami hanya berbicara tidak lebih dari
setengah jam karena tidak mungkin saya memberi jawaban rinci tanpa data. Dalam
pesan Rais Aam kepada saya melalui WA, hanya disampaikan agar saya menghadap
sendirian dan bertemu empat mata tanpa memberi tahu apa yang akan menjadi topik
pembicaraan sehingga saya datang menghadap tanpa mempersiapkan apa pun. Saya
hanya memberikan jawaban umum dan mohon waktu menyiapkan datanya. Ketika saya
sampaikan bahwa dalam pertemuan berikutnya saya berharap dapat mengajak Saudara
Sumantri Suwarno sebagai pemegang pembukuan keuangan, Rais Aam menolak dan
tetap meminta pertemuan empat mata.
10. Pada hari Senin, 17 November 2025, saya
menghadap dengan membawa penjelasan tertulis tentang keuangan yang disusun oleh
Sumantri dan ilasan hukum mengenai TPPU yang disusun ikeh Saudara Abdul Qodir
Bin Aqil untuk saya serahkan kepada Rais Aam. Pertemuan berlangsung hampir dua
jam dan saya menjawab semua pertanyaan dari apa yang saya ketahui. Saya pamit
karena waktu itu saya belum sempat melaksanakan sholat dhuhur sedangkan waktu
sudah menunjukkan jam 14.00 lebih. Saya juga berpikir bahwa Rais Aam membutuhkan
waktu untuk mempelajari dokumen-dokumen tertulis yang saya serahkan. Saya pun
menunggu panggilan Rais Aam selanjutnya, tapi tidak ada sampai tiba-tiba
dilaksanakan Rapat Harian Syuriyah yang berujung dokumen risalah berisi
tuduhan-tuduhan terhadap saya hingga pemberhentian saya dari jabatan Ketua Umum
PBNU.
11. Mengenai PPATK, saya tidak akan mengatakan
apa pun karena saya tahu bahwa data PPATK adalah rahasia negara dan
membocorkannya kepada pihak yang tidak berhak adalah pidana berat.
12. Saya tidak ingin memperluas pembicaraan
diluar apa yang disampaikan oleh Rais Aam.
13. Sebagaimana saya nyatakan di Lirboyo, saya
memohon ishlah binaa-an ‘alal haqq bukan ’alal baathil. Ishlah yang memulihkan
nidhaam jam’iyyah, bukannya merusaknya lebih jauh lagi.
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Selengkapnya baca di nu online:
https://www.nu.or.id/nasional/gus-yahya-tanggapi-kh-miftachul-akhyar-soal-akn-nu-peter-berkowitz-hingga-dugaan-tppu-kyFgD
___
Ket.
1. Foto masyayikh di majlis Lirboyo
2. Kiai miftach di majlis CNN
#nahdlatululama
Post a Comment
Terimakasih atas komentar dan masukan anda