Tanggapan Gus Yahya atas KH. Miftahul Akhyar

JAWABAN  GUS YAHYA atas TABAYUN RAIS AAM

 

scure youtube CNN

Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

 

Dengan segala hormat dan permohonan maaf apabila ada kata-kata yang menyebabkan tidak berkenan, saya perlu menanggapi apa yang disampaikan oleh Rais Aam diatas.

 

1. Tidak benar bahwa sebelum dimulainya AKNNU saya belum berhasil mendapatkan tambahan narasumber dari Timur Tengah. Pada waktu itu sudah ada tambahan Mahmud Killic dari Turki, Dirjen IRCICA, sebuah lembaga kebudayaan dibawah OKI; Muhammad Abu Al Fadl, Pemred Al Ahram, Surat Kabar Mesir; Mustofa Zahran, intelektual publik dan penulis Mesir; sedangkan Syekh Ali Jum’ah telah menyatakan bersedia tapi untuk penjadwalannya biau minta menunggu sesudah awal Nopember mengingat bahwa beliau saat itu masih dalam pengawasan dokter. Semua sudah saya laporkan kepada Rais Aam sebelum dimulainya AKNNU, bahkan sebelum Rapat Gabungan Syuriyah Tanfidziyah yang kemudian memutuskan bahwa AKNNU dilaksanakan sesuai rencana.

 

2. ⁠Pandangan Peter Berkowitz yang mendukung Zionisme tidak terdapat dalam informasi publik mengenai profilnya: https://en.wikipedia.org/wiki/Peter_Berkowitz. Saya memang bertemu dengannya dua kali, sekitar pertengahan 2021 dan akhir 2023. Saya mempertimbangkannya berdasarkan catatan karirnya di bidang akademik (sebagai profesor hukum di Universitas Stanford) dan di pemerintahan. Saya telah menyatakan permohonan maaf secara terbuka mengenai ketidaktahuan saya tentang pandangan yang bersangkutan soal Zionisme.

 

3. ⁠Haji Muhammad Kholil bekerja untuk Gus Dur sejak 2003, kemudian mulai 2008 Gus Dur meminta Kyai Mustofa Bisri meneruskan kegiatan-kegiatan internasionalnya dengan didampingi Haji Muh (waktu itu Holland Taylor) dan Hodri Ariev (Sekarang Ketua RMI), dan sejak 2011 Kyai Mustofa Bisri melimpahkan aktifitas-aktifitas internasional itu kepada saya, tetap dengan dampingan Haji Muh. Haji Muh tidak pernah bertidak atau melakukan apa pun kecuali atas permintaan dan/atau persetujuan saya, sebagaimana cara kerjanya saat mendampingi Gus Dur dan Kyai Mustofa Bisri. Maka semua yang dilakukannya yang berhubungan dengan NU sepenuhnya merupakan tanggung jawab saya. Sedangkan semua hubungan kerja kelembagaan berikut rangkaiannya dilakukan berdasarkan kesepakatan-kesepakatan tertulis dengan dokumen-dokumen yang sah secara hukum.

 

4. ⁠Saya menawarkan semua narasumber AKNNU kepada berbagai lembaga untuk dapat ikut memmanfaatkan kehadiran para narasumber itu di Indonesia. Kepada UI jiga saya tawarkan narasumber-narasumber lainnya tapi yang kebetulan jadwalnya bersesuaian adalah Peter Berkowitz. Rektor bukan bawahan MWA dan tidak terikat perintah pribadi Ketua MWA. Saya tidak pernah memberi perintah kepada Rektor melainkan hanya menawarkan sedangkan keputusan sepenuhnya di tangan Rektor.

 

5. ⁠Dalam AKNNU Peter Berkowitz kami minta bicara tentang “Hak Asasi Manusia Universal dan Demokrasi” dan sama sekali tidak menyinggung masalah Palestina-Israel, baik di AKNNU maupun UI. Rekaman kuliahnya tersimpan rapi dan dapat diperiksa ulang. Di pihak lain, posisi saya dalam membela dan memperjuangkan Palestina dengan cara apa pun yang mungkin di setiap kesempatan, semuanya terdokumentasikan dan tersiar dengan jelas dan terbuka. Sedangkan masyarakat luas pun telah semakin memahami duduk masalah terkait insiden Peter Berkowitz, terbukti pembicaraan publik yang bernada negatif mengenai hal itu pun telah pupus.

 

6. ⁠Tidak benar bahwa saya memindahkan AKNNU ke Rembang. Yang terjadi adalah bahwa saat Rais Aam memerintahkan penghentian AKNNU, dua orang narasumber, yaitu Imam Yahya Pallavicini dari Italia dan Mustofa Zahran dari Mesir sudah terlanjur dibelikan tiket. Maka agar perjalanan mereka tidak sia-sia, saya atur agar mereka menghadiri Haul di Rembang dan ada sejumlah teman PBNU, baik peserta AKNNU atau bukan, juga ikut hadir dalam Haul di Rembang itu, seperti pada Haul tahun-tahun sebelumnya.

 

7. ⁠Saya sudah menjelaskan secara rinci kepada Rais Aam dan kepada Rapat Gabungan mengenai nalar dan tujuan dari kurikulum AKNNU, yang intinya adalah memberikan wawasan kepada peserta mengenai realitas yang akan dihadapi saat memasuki arena percaturan internasional, dan sama sekali tidak ada elemen apa pun yang dapat berdampak indoktrinatif terhadap peserta, apa lagi para peserta adalah kader-kader lanjut bahkan sebgian adalah orang-orang ‘alim yang telah sempurna wawasan dan kemantapan aqidahnya terkait aswaja.

 

8. ⁠Mengenai dana yang oleh Mardani Maming (pada waktu itu bendahara umum) dimsukkan kedalam rekening PBNU, telah saya jelaskan dengan menyertakan paparan dari ahli hukum bahwa dugaan TPPU dalam hal itu amat sangat lemah —untuk tidak mengatakan mustahil. Lebih mustahil lagi adalah mengaitkan PBNU atau NU, karena sama sekali tidak ada tindakan organisasional kelembagaan (melalui pembuatan kepitisan oraganisasi) dalam hal ini. ’Alaa kulli haal dugaan apa pun mengenai hal ini harus melalui proses pembuktian yang sah sebelum ditetapkan kesimpulan apa pun.

 

9. ⁠Tidak benar bahwa Kamis, 13 November 2025, saya menghadap Rais Aam dua jam lebih. Kami hanya berbicara tidak lebih dari setengah jam karena tidak mungkin saya memberi jawaban rinci tanpa data. Dalam pesan Rais Aam kepada saya melalui WA, hanya disampaikan agar saya menghadap sendirian dan bertemu empat mata tanpa memberi tahu apa yang akan menjadi topik pembicaraan sehingga saya datang menghadap tanpa mempersiapkan apa pun. Saya hanya memberikan jawaban umum dan mohon waktu menyiapkan datanya. Ketika saya sampaikan bahwa dalam pertemuan berikutnya saya berharap dapat mengajak Saudara Sumantri Suwarno sebagai pemegang pembukuan keuangan, Rais Aam menolak dan tetap meminta pertemuan empat mata.

 

10. ⁠Pada hari Senin, 17 November 2025, saya menghadap dengan membawa penjelasan tertulis tentang keuangan yang disusun oleh Sumantri dan ilasan hukum mengenai TPPU yang disusun ikeh Saudara Abdul Qodir Bin Aqil untuk saya serahkan kepada Rais Aam. Pertemuan berlangsung hampir dua jam dan saya menjawab semua pertanyaan dari apa yang saya ketahui. Saya pamit karena waktu itu saya belum sempat melaksanakan sholat dhuhur sedangkan waktu sudah menunjukkan jam 14.00 lebih. Saya juga berpikir bahwa Rais Aam membutuhkan waktu untuk mempelajari dokumen-dokumen tertulis yang saya serahkan. Saya pun menunggu panggilan Rais Aam selanjutnya, tapi tidak ada sampai tiba-tiba dilaksanakan Rapat Harian Syuriyah yang berujung dokumen risalah berisi tuduhan-tuduhan terhadap saya hingga pemberhentian saya dari jabatan Ketua Umum PBNU.

 

11. ⁠Mengenai PPATK, saya tidak akan mengatakan apa pun karena saya tahu bahwa data PPATK adalah rahasia negara dan membocorkannya kepada pihak yang tidak berhak adalah pidana berat.

 

12. ⁠Saya tidak ingin memperluas pembicaraan diluar apa yang disampaikan oleh Rais Aam.

 

13. ⁠Sebagaimana saya nyatakan di Lirboyo, saya memohon ishlah binaa-an ‘alal haqq bukan ’alal baathil. Ishlah yang memulihkan nidhaam jam’iyyah, bukannya merusaknya lebih jauh lagi.

 

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

 

Selengkapnya baca di nu online:

 

https://www.nu.or.id/nasional/gus-yahya-tanggapi-kh-miftachul-akhyar-soal-akn-nu-peter-berkowitz-hingga-dugaan-tppu-kyFgD

 

___

Ket.

1. Foto masyayikh di majlis Lirboyo

2. Kiai miftach di majlis CNN

 

#nahdlatululama 

Post a Comment

Terimakasih atas komentar dan masukan anda

Previous Post Next Post